Icip-icip Tongseng Jamur Candi Borobudur

January 2nd, 2016 | by Ida
Icip-icip Tongseng Jamur Candi Borobudur
Restaurants
0

040feb2a6277a93a57c28258b5ac66e2

 

Jika berlibur ke Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, rugi jika tidak mampir dan makan di Pondok Selera, warung makan sederhana yang menyajikan tongseng jamur.

Jika tongseng umumnya menggunakan bahan daging kambing atau sapi, tapi yang disajikan di warung ini mengganti kedua bahan tersebut dengan jamur merang dan jamur tiram. Icip-icip soal rasa, tentu tidak kalah dengan tongseng daging. Justru membuat goyangan lidah kita terasa lebih khas.

Amin, pemilik warung, mengatakan, menu tongseng jamur masakannya adalah yang pertama ada di Magelang. Lokasinya di jalan utama, sekitar 300 meter dari pintu masuk Kompleks Candi Borobudur, dengan spanduk kecil bertuliskan “Wisata kuliner pesona Borobudur“.

Sore itu, tangan Amin lincah menggerakkan penggorengan. Aroma menusuk dari asap tumis bawang yang dicampur kuah tongseng. Ketika baunya bertambah harum, dia lalu memasukkan dua genggam jamur. Setelah warnanya mulai berubah, tidak sampai 10 menit terhidang tongseng jamur yang panas mengundang selera.

Makanan ini rupanya lebih mak nyuus disantap saat panas dengan asap yang masih mengepul. Bagi pengidap kolesterol tinggi, makanan ini dijamin aman.

“Rendah kolesterol, bahkan ada pembeli yang punya penyakit jantung dan penyakit kolesterol lainnya menjadi langganan tetap saya,” ungkapnya.

Tentang resep, dia mengatakan sama dengan resep tongseng umumnya, cuma isinya yang berbeda, yaitu jamur. Orang bilang tongsengnya enak, tetapi menurutnya cuma cara pembuatan dan takaran bahannya saja yang membedakan.

“Tongseng jamur bisa dicampur ayam dan telur, tapi tergantung pembeli, kadang ada yang mau jamur saja tanpa dicampur keduanya, pokoknya kita sajikan sesuai permintaan pembeli,” terangnya.

Kewalahan

Selama 17 tahun lamanya Amin berjualan tongseng jamur. Warung makan miliknya buka mulai sore pukul 16.00 WIB dan tutup tengah malam, tetapi kadang tutup lebih awal jika nasi atau bahan sudah habis.

“Saya sering kewalahan, terutama saat musim liburan dan bulan puasa, pembeli bahkan sampai memesan sejak siang hari sebelum buka, banyak juga yang memesan untuk dibungkus,” terangnya.

Pelanggannya tersebar di banyak kota, dari Yogyakarta, Semarang, Ambarawa, hingga Bandung. “Ada yang memesan khusus untuk prasmanan hingga yasinan,” tambahnya.

Dalam sehari berjualan di warung kecilnya, dia bisa menghabiskan 8 kilogram jamur tiram dan 35 kilogram jamur merang. Dia kerap kekurangan jamur yang dibeli di Kota Magelang dan Purwokerto.

Tetapi, bagi Anda yang ingin mencoba, Amin saat ini memiliki cabang di Muntilan dan akan segera membuka lagi di Kota Magelang.

 

sumber: kompas

Comments are closed.