Meracik Kupat Tahu dengan Resep Warisan

December 13th, 2015 | by Ida
Meracik Kupat Tahu dengan Resep Warisan
Culture
0

KALAU Muhammad Nasir membikin kupat tahu dengan arang sebagai bahan bakarnya, ini bukan berarti dia ikut-ikutan tren “mendadak tradisional”. Memang, beberapa pelaku usaha kuliner, belakangan memilih meninggalkan kompor gas lalu beralih ke anglo dan arang. Biar bercitarasa tradisional, katanya.

Tapi, Nasir sudah dari dulu melakukannya. Tirto Prawiro, bapaknya, yang belasan tahun jadi penjual kupat tahu keliling, juga pakai anglo dan arang. “Saya tahun 1982 sudah mulai ikut bapak. Jual kupat tahu, keliling dari satu desa ke desa lain di sekitar Bodobudur,” kenang pria kelahiran Borobudur, 12 Maret 1975 itu. Kala itu, umur Nasir masih 7 tahun. Tugasnya sebatas menemani bapaknya, dan sesekali disuruh meng-ambilkan cobek, menyiapkan bumbu-bumbu, juga mengipasi bara arang.

Tahun 1996, saat Tirto Prawiro sudah tak mampu lagi berjualan kupat tahu, Nasir meneruskannya. Ia buka warung di Jalan Badrawati di Dusun Ngaran 1, Borobudur. Sampai sekarang, di warung berukuran 5 kali 3 meter itu pula, Nasir tetap setia melayani pelanggan, yang memang sudah kadung cocok dengan racikan kupat tahu warisan Tirto Prawiro. “Buka jam 1 siang, tutup jam 7 malam,” kata bapak tiga anak itu.

Selain Nasir, dua kakaknya juga melanjutkan profesi Tirto Prawiro. Sukarjo, si sulung, buka warung kupat tahu di Jalan Medangkamulan, Borobudur. Dan, Slamet, anak nomor dua, memilih lokasi jualan di Muntilan. Beberapa orang di Borobudur sampai berseloroh, keluarga Tirto Prawiro memang trah peracik kupat tahu yang handal.

Lantas, berapa banyak tahu yang dibutuhkan tiap harinya? “Rata-rata, hari biasa perlu 80 potong. Kalau liburan, saya butuh lebih dari 120 tahu,” jelas Nasir.

Ia membeli tahu langsung dari pabriknya di Dusun Gopalan, tak jauh dari tempat tinggalnya. Tirto Prawiro dulu juga selalu ambil tahu di Gopalan. “Tapi pabrik yang dulu jadi langganan bapak, sudah tutup. Sekarang beli di pabrik sebelahnya,” ujarnya.

Isteri Nasir, Muntoyamah, kebagian tugas belanja sayuran dan bumbu di Pasar Borobudur. Biasanya, Nasir seorang diri menunggui warung. Tapi saat liburan, Muntoyamah menemaninya. “Sebenarnya kalau orang sampai ngantre, saya terkadang rikuh dengan pembeli. Tapi Alhamdulillah selama ini mereka pada ngerti,” tutur Nasir. Mulai setahun terakhir, ia membanderol kupat tahu olahannya seharga Rp 6 ribu per porsi.

Tahun 2001, Tirto Prawiro meninggal dunia. Tapi resep kupat tahu Tirto, tetap diwarisi Nasir, berikut kedua kakaknya, Sukarjo dan Slamet.

Relief-08 kupat tahu

Comments are closed.