Pawon Luwak Coffee, Sensasi Kopi Rendah Asam dari Kotoran Luwak

March 22nd, 2016 | by Ida
Pawon Luwak Coffee, Sensasi Kopi Rendah Asam dari Kotoran Luwak
Restaurants
0

20150620101341

Menikmati pemandangan di sekitar Candi Borobudur,

Mendut, dan Pawon, tak lengkap rasanya jika tidak

mampir ke Pawon Luwak Coffee. Ya, seperti namanya,

di kedai yang terletak di dekat Candi Pawon ini, kita

bisa menikmati sensasi ngopi yang berasal dari kotoran

musang atau luwak. Bagaimana rasanya?.

Seorang pelayan menyodorkan dua cangkir putih

berisi kopi hitam yang habis diseduh. Kopi ini memang

terasa lain saat diseruput. Tak terlalu asam, tidak terlalu

pahit, rasa kopi yang cukup pas di lidah.

Tidak disangka, kopi yang dinikmati ini memiliki

cerita dan resep yang sungguh unik. Ternyata, kopi ini

benar-benar berasal dari kotoran luwak. Sehingga, rasa

dan juga sensasi kenikmatan yang ditawarkan lebih dari

sekedar kopi biasa.

Ajie Prananda, pemilik Pawon Luwak Coffee

mengatakan, kopi yang dibuat oleh brandnya memang

benar-benar menjaga selera kenikmatan. Salah satunya,

adalah dengan menggunakan biji kopi yang telah

dimakan oleh luwak.

“Memang, kopi yang kami olah berasal dari kotoran

luwak yang memang sebenarnya adalah biji kopi pilihan.

Luwak memilih kopi yang benar-benar masak untuk

dimakan, bukan kopi sembarangan,” jelas Ajie.

Warga Dusun Brojonalan, Desa Wanurejo,

Kecamatan Borobudur ini menjelaskan, kotoran luwak

ini bisa dijumpai di kebun kopi jenis Arabika yang

berada di wilayah Temanggung dan Wonosobo. Dia dan

pekerjanya pun memunguti kopi yang sudah “diolah”

secara alami oleh luwak.

“Yang membuat sensasinya berbeda adalah, ada

fermentasi alamiah dari pencernaan luwak. Kopi ini

menjadi rendah asam dan caffein. Sementara, jika kopi

biasa terasa lebih asam dan bercaffein tinggi. Bahkan,

jika dikonsumsi di pagi hari tidak menimbulkan efek di

perut,” tambah Ajie.

Pria kelahiran 26 Mei 1961 ini melanjutkan, resep

menggunakan kotoran luwak ini sebenarnya sudah

ada sejak jaman nenek moyang di jaman Belanda.

Bahkan, inspirasi ini datang dari kakeknya yang

memang kerap membuat kopi dari kotoran luwak.

Insipirasi ini kemudian dibawa Ajie untuk percaya

diri membuka sebuah kedai kopi sekaligus rumah

produksi kopi di dekat Candi Pawon sekitar tahun 2013

silam. Di rumah produksi ini, dia menyuguhkan suasana

yang cukup alami.

Wisatawan bisa mendapat pengetahuan tentang

pembuatan Pawon Luwak Coffee dengan melihat

langsung proses produksinya. Termasuk, wisatawan bisa

melihat enam ekor luwak yang dipelihara secara khusus

oleh Ajie. Selain itu, wisatawan bisa menikmati camilan

dan kopi yang khas itu tentunya.

Adapun, Ajie menjelaskan, proses produksi kopi

dimulai dari penjemuran selama kurang lebih tujuh

hari, kemudian pencucian, lalu biji kopi yang bersih itu

ditumbuk, dikuliti, dan disangrai selama 3 jam.

“Usai disangrai baru diolah dalam bentuk bijian atau

dijadikan serbuk,” kata bapak berputra tiga ini.

Ajie menjelaskan, untuk produksi per bulan

masih cukup terbatas. Rata-rata, saat ini pihaknya bisa

memproduksi kopi dua kuintal per bulan. Sementara,

untuk pasar penjualannya sudah mencapai domestik

dan manca negara.

“Untuk manca biasanya bisa dilayani secara online.

Kami sudah mengirim ke Rusia, Czhech, dan negaranegara

lain. Kami bisa melayani hanya 5 sampai 10 pak,

tidak masalah. Karena, ongkos kirim sudah ditanggung

pemesan,” tutupnya.

Kopi-03

Comments are closed.