Monumen Persahabatan Indonesia – Jepang Di dekat Candi Mendut

March 22nd, 2016 | by Ida
Monumen Persahabatan Indonesia – Jepang Di dekat Candi Mendut
Culture
0

Mendut-02

CANDI Mendut bagi umat Buddha mempunyai makna tersendiri.

Keberadaan tiga buah arca Budha yang berukuran besar

di bilik candi ini memiliki keindahan yang sangat tinggi

baik dalam bentuk fisik mau pun sebagai karya seni.

Ketiga arca Budha yang berada di candi ini dianggap

masih memancarkan sinar kesucian. Sehingga di

kalangan umat Budha candi ini menjadi tempat berdoa

yang mujarab. Tidak saja umat Budha dari dalam negeri,

tetapi juga dari luar negeri.

Seperti yang dilakukan Ny. Shizuko Miyagawa,

salah seorang umat Budha sekte Nyoi Ken Shin Kei dari

negeri Jepang. Dia telah terkabul doa permohonannya

kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dipanjatkan di altar

bilik Candi Mendut ini. Doa itu adalah permohonan

kesembuhan bagi anaknya semata wayang, Tsuyoshi

Miyagawa, yang menderita sakit cukup berat dan tidak

kunjung sembuh meski berbagai upaya penyembuhan

telah dilakukan di negerinya sana. Ini terjadi pada tahun

1980-an. Dari pengalaman spiritual tersebut, sampai

kini banyak umat Budha dari sekte tersebut yang sering

berkunjung ke candi ini guna memanjatkan doa-doa

permohonan keselamatan dan ketenteraman dalam

hidupnya dengan melakukan ritual pembacaan doa di

bilik Candi Mendut.

Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan YME

atas anugerah kesembuhan anaknya itu, Ny. Shizuko

Miyagawa kemudian membangun sebuah Monumen

Persahabatan Indonesia – Jepang, yang kini masih

tegak berdiri di halaman samping rumah Pak Kosim

(almarhum), sebelah barat pintu masuk Candi Mendut.

Monumen yang diresmikan pada bulan Pebruari 1985

ini, berupa sebuah prasasti tembaga yang dipasang di

sebuah balok batu di tengah monumen dan dikelilingi

pilar-pilar batu andesit Merapi yang bertuliskan

huruf Jepang. Bangunan monumen milik keluarga Ny.

Shizuko Miyagawa itu digarap oleh sanggar seni pahat

batu ‘Sanjaya’ milik Dulkamid Djayaprana, pemahat

dari dusun Prumpung desa Tamanagung, Muntilan.

Monumen yang dibangun di dekat situs purbakala ini

sudah mendapat ijin dari Kementerian Pendidikan dan

Kebudayaan. Diharapkan, keberadaan monumen ini

dapat meningkatkan jumlah pengunjung dari Negeri

Sakura ke Indonesia, khususnya mereka yang melakukan

perjalanan wisata spiritual ke Candi Mendut dan Candi

Borobudur.

Candi Mendut ketika ditemukan pada tahun 1836

dinyatakan sebagai sebuah monumen mati (‘dead

monument’), karena berupa puing-puing reruntuhan

sebuah candi. Namun setelah candi ini berhasil

direstorasi dengan bentuk bangunan seperti yang

ada sekarang ini, kini di bilik Candi Mendut sering

dilakukan ritual-ritual keagamaan oleh umat Budha.

Karena arca-arca yang ada di dalamnya dipercaya masih

memancarkan aura kesucian. Tiga arca Budha yang

berada di dalam bilik Candi Mendut ini adalah, Arca

Dyani Budha Cakyamuni atau Vairocana, Arca Budha

Avalokitesvara atau Lokesvara, dan Arca Bodhisatva

Vajrapani. Arca Dyani Budha Cakyamuni menghadap

ke barat (yang berada di tengah), duduk dengan

posisi kedua kakinya menyiku ke bawah, menapak

pada landasan berbentuk bunga teratai. Sikap tangan

‘dharmacakramudra’ yang bermakna sedang memutar

‘roda kehidupan’.

Arca Bodhisatva Avalokitesvara berada di sebelah

utara arca Dyani Budha Cakyamuni, menghadap ke

selatan. Arca ini digambarkan dalam posisi duduk, kaki

kiri dilipat kedalam dan kaki kanan menjuntai ke bawah

Sikap tangannya, ‘varamudra’ yang bermakna sedang

memberi atau menyampaikan ajaran. Pengarcaan

Budhisatva Avalokitesvara ini mengenakan pakaian

kebesaran dengan perhiasan-perhiasan di telinga, leher

dan kelat bahu, serta memakai mahkota.

Dan Arca Bodhisatva Vajrapani yang terletak di

sebelah kiri arca Budha Sakyamuni menghadap ke utara,

digambarkan dengan mengenakan pakaian kebesaran

seperti arca Bodhisatva Avalokitesvara. Pengarcaannya

dengan posisi duduk, kaki kanan dilipat dengan telapak

kaki menyentuh paha, kaki kiri menjuntai ke bawah.

Bangunan candi Mendut berdiri di atas ‘basement’

(dasar candi) setinggi 3,70 meter sehingga tampak

anggun, kokoh dan berwibawa. Ukuran candi 10 meter

x 10 meter dan tinggi 13,3 meter. Jumlah tataran naik

candi ada 14 anak tangga, menghadap ke barat laut.

Arah hadap ini tidak lazim untuk candi-candi di Jawa

Tengah. Karena pada umumnya candi-candi di Jawa

Tengah menghadap ke timur. Di atas basement ada

lorong yang mengelilingi badan candi selebar 2,48

meter. Bagian atap candi terdiri tiga tingkat dengan

hiasan stupa-stupa kecil berjumlah 48 buah. Dari

gambar rekonstruksi, di candi ini semula ada puncak

candi. Namun sayang, bagian puncak candi yang indah

itu sampai kini belum berhasil direkonstruksi. Batu batu

bangunan dan ornamen candi yang belum bisa disusun

kembali kini tertata rapi di pelataran candi sebelah

utara.

Comments are closed.