Candi Borobudur Jadi Jejak Peradaban Buddha di Asia Tenggara

February 14th, 2016 | by Ida
Candi Borobudur Jadi Jejak Peradaban Buddha di Asia Tenggara
News
0

Kementerian Pariwisata akan mencoba mempromosikan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah melalui program “Trail of Civilization”. Program tersebut merupakan kerja sama negara-negara anggota ASEAN yang memiliki jejak peninggalan peradaban Buddha.

“Kita mendukung adanya program di ASEAN namanya Trail of Civilization. Kalau bisa disepakati dijalankan, program itu sangat bagus karena kalau positioning Borobudur sebagai pusat jejak peradaban, itu akan sangat luar biasa,” kata Menteri Pariwisata, Arief Yahya kepada seperti dilansir Kompas di sela-sela Rapat Koordinasi Nasional Kementerian Pariwisata di Jakarta, Rabu (27/1).

Arief mengaku telah bertemu dengan semua duta besar negara-negara anggota ASEAN di Myanmar beberapa waktu lalu sebelum penyelenggaraan ASEAN Tourism Forum 2016 di Manila pada 18-5 Januari 2016 lalu.

Mereka menyepakati pembuatan paket wisata bersama yaitu “Trail of Civilization” atau “Jejak Peradaban”. Arief menjelaskan paket wisata “Trail of Civilization” akan diikuti oleh negara-negara seperti China, Thailand, Myanmar, Kamboja, Laos, dan Vietnam.

“Misalnya nanti ada di Thailand tiga hari lalu empat hari di Borobudur. Atau empat hari di Angkor Wat, dua hari di Borobudur itu tidak masalah,” jelasnya.

Nantinya bentuk atraksi yang ditawarkan di Candi Borobudur adalah hal-hal yang terkait dengan jejak peradaban Buddha. Sehingga, lanjut Arief, dengan adanya program “Trail of Civilization”, wisatawan mancanegara bisa lebih lama berada di Indonesia.

“Daya tarik Candi Borobudur sebagai bangunannya, atraksinya ‘Trail of Civilization’,” katanya.

Sebenarnya pada Agustus 2006 silam, menteri-menteri pariwisata negara ASEAN seperti Myanmar, Thailand, Vietnam, Indonesia, dan Laos telah menyepakati salah satu point yakni penguatan kerja sama dan meningkatkan implementasi kebijakan dan mekanisme untuk memfasilitasi perjalanan di antara negara-negara ASEAN berdasarkan jejak peradaban yang terkait yakni peninggalan Buddha.

Kesepakatan itu dideklarasikan di Indonesia dengan nama Borobudur Declaration. Kemudian bentuk event jejak peradaban tersebut yaitu bertajuk “The Trail of Civilization and Art Perfomance” pernah diselenggarakan di Candi Borobudur seperti pada perayaan nasional Waisak Tahun pada tahun 2008 dan 2009. Sementara pada tahun 2010 event tersebut diselenggarakan di Siem Reap, Kamboja.

“Trail of Civilization” sendiri merupakan paket wisata yang menawarkan perjalanan menelusuri jejak agama dan peninggalan bersejarah umat Buddha. Di negara-negara anggota ASEAN terdapat obyek-obyek wisata yang terkait dengan peninggalan Buddha yakni Angkor Wat di Kamboja, pagoda di Vietnam, candi-candi di Thailand, dan Luang Prabang di Laos.

Untuk mengembangkan Candi Borobudur, pemerintah membentuk Badan Otoritas Borobudur sebagai pengelola yang terintegrasi.

Pemerintah juga menyiapkan anggaran Rp 20 triliun untuk pengembangan kawasan Candi Borobudur. Sebanyak Rp 10 triliun akan dibiayai dari APBN, sedangkan Rp 10 triliun lagi akan ditawarkan kepada investor.

”Anggaran Rp 20 triliun tersebut nantinya akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur di areal seluas 5.000 hektar di kawasan Candi Borobudur,” ujar Arief Yahya. Infrastruktur yang akan dibangun antara lain infrastruktur dasar, seperti jalan, listrik, dan penyediaan air.

Candi Borobudur, kata Arief, nanti akan dikembangkan dengan tagline “Borobudur Mahakarya Budaya Dunia”. Sesuai dengan tagline tersebut, Candi Borobudur sebagai destinasi internasional nanti juga akan didukung dengan berbagai sarana prasarana yang mendukung kedatangan lebih banyak turis, seperti hotel dan bandara internasional.

”Untuk menambah jumlah wisatawan yang datang, jalur-jalur kereta api yang melintasi Magelang juga akan dihidupkan kembali,” ujarnya.

”Jika sebelumnya jumlah wisatawan asing hanya 250.000- 300.000 orang per tahun, dengan upaya ini, pada tahun 2019 jumlah wisatawan ditargetkan mampu mencapai 2 juta orang per tahun,” ujarnya.

Sebanyak 2 juta wisatawan asing akan mendatangkan devisa 2 miliar dollar AS, atau setara Rp 24 triliun-Rp 25 triliun.

Comments are closed.