WISATA KREATIF DI HALAMAN BELAKANG BOROBUDUR

January 18th, 2016 | by Ida
WISATA KREATIF DI HALAMAN BELAKANG BOROBUDUR
Culture
0

Dengan telaten, jari-jari Siti Ayu Nurkhayati, 20 tahun, membentuk tanah liat itu. Sambil duduk mengayuh pedal, sekepal tanah liat yang berputar dipilin-pilinnya menjadi wujud yang berguna nan cantik.

Sepuluh menit kemudian jadilah sebuah senthir atau lampu minyak menyerupai stupa Candi Borobudur. “Bentuknya kreasi sendiri. Membuatnya harus konsentrasi,” kata dara lulusan SMK di Magelang itu.

Ayu segera memajang karya terbarunya bersama gerabah-gerabah lain seperti mangkuk, asbak, lampu, hingga kuali dan guci. Tak hanya dilengkapi perlengkapan produksi modern seperti oven yang memudahkan pembuatan, tempat produksi gerabah tersebut juga menjadi galeri memamerkan karya.

Tempat pembuatan gerabah ini berupa sebuah pendopo rumah joglo yang asri. Namanya Galeri Komunitas Desa Karanganyar, Borobudur, Magelang, dan menjadi pusat produksi dan penjualan gerabah yang menjadi kerajinan khas desa tersebut.

Desa Karanganyar memang telah dikenal lama sebagai produsen gerabah. Jika anda berwisata ke Candi Borobudur, sebagian besar gerabah yang dijajakan di sekitar candi adalah produksi desa tersebut. Warga desa setempat menghasilkan gerabah secara tradisional, swadaya, dan mandiri.

Eksitensi kerajinan gerabah Karanganyar selama ini seakan tenggelam karena wisatawan perhatian tertuju perhatiannya pada salah satu keajaiban dunia itu. Padahal potensi Desa Karanganyar sangat besar, baik dikembangkan sebagai produsen gerabah maupun jadi destinasi wisata alternatif di Magelang dan Jawa Tengah.

Tak hanya menghasilkan gerabah, Galeri Komunitas Karanganyar, misalnya, menyediakan paket wisata alternatif pembuatan gerabah. Wisata alternatif berbasis karya kreatif seperti ini agaknya masih jarang dikembangkan. Umumnya destinasi wisata masih sebatas lokasi-lokasi wisata yang hanya mengandalkan situs dan panorama alam.

Candi Borobudur sendiri sejatinya karya kreatif di masa lampau yang tak lekang oleh waktu. Ini tentu saja menjadi landmark tersendiri jika kemudian di desa-desa di sekitarnya menyimpan potensi yang sama. Desa-desa di ‘halaman belakang’ Borobudur selama ini jarang diekspose tapi ternyata memiliki karater unik yang potensial dikembangkan sebagai tujuan wisata kreatif; wisata yang tak akan memudar dan bisa diciptakan serta dikemas mengikuti perkembangan jaman.

Destinasi wisata kreatif ini bukan cuma memenuhi hasrat plesiran tapi juga menjadi tujuan untuk menimba ilmu atau bahkan menghasilkan karya kreatif. Medio Juni lalu, berbekal rasa penasaran dan kliping dari Google, saya menelusuri beberapa desa di sekitar Borobudur yang menyimpan potensi wisata kreatif semacam itu.

Di galleri itu, dengan sabar Ayu akan setia menjelaskan proses pembuatan gerabah. Setelah dibentuk di platform berputar, gerabah dikeringkan 1-2 hari kemudian dioven selama lima jam dengan suhu 825 derajat celcius. Proses selanjutnya diglasir atau diwarnai, didiamkan satu hari lagi, dan terakhir dioven 1125 derajat celcius selama delapan jam.

Tidak gampang membentuk tanah liat pada alat pemutar. Harus ada sinergi antara genjotan kaki dan kendali tangan dalam membuat wujud tertentu. Jika proses ini bisa dilalui, tahap selanjutnya akan mudah karena galeri dilengkapi alat modern.

Ayu hafal proses pembuatan gerabah karena ia membuat gerabah sejak kelas dua SD. “Sejak kecil membantu ibu. Mayoritas perajin gerabah di sini ibu-ibu,” ujar anak bungsu dari dua bersaudara ini.

Pemuda-pemuda desa setempat dipercaya untuk mengelola produksi gerabah di galeri. Sayangnya hanya enam perajin gerabah muda yang mau bergabung, termasuk Ayu. “Yang lain memilih bekerja di kota. Tapi kalau di sini saja ada pekerjaan, kenapa ke kota. Lagipula siapa yang nanti meneruskan tradisi gerabah Karanganyar,”ujar Ayu dengan mimik serius.

Para pemuda desa dilatih dan didampingi oleh perajin gerabah senior. Selain itu mereka harus belajar bahasa Inggris untuk memudahkan komunikasi dengan turis asing. Kertas-kertas vocabulary tampak ditempel di depan tuas putar sehingga mereka bisa belajar sambil bekerja.

Gerabah produksi pemuda Karanganyar dijual di galeri atau ikut pameran. Mereka juga menerima pesanan. “Yang perlu kami tingkatkan adalah soal desain-desain baru,” ujar Ayu.

Selain pembuatan gerabah, galeri ini menawarkan berbagai paket wisata, mulai paket menikmati sunrise hingga paket seminar. “Letaknya strategis dan suasananya masih alami,” ujar Yossy Wulandari, warga desa pengelola galeri, menawarkan keunggulan paket wisata ini.

Di luar galeri, warga Karanganyar juga membuat gerabah secara tradisional. Pembakarannya cukup dengan tungku dan jerami di samping rumah. Gerabah kecil, seperti asbak dan sentir, dijual Rp 2000 perbuah jika masih polos dan RP 4000 untuk gerabah yang telah diwarnai.

Kerajinan gerabah semula hanya usaha sambilan ibu-ibu Desa Karanganyar. Satu usaha gerabah misalnya bisa mempekerjakan hingga 40 orang selebihnya hanya menjadi usaha rumah tangga. Melihat potensi ini, UNESCO lebih dulu turun tangan dengan membantu penjualan dan pendirian galeri gerabah, hingga menjadikannya desa wisata.

Riwayat desa ini menjadi sentra gerabah tradisional juga unik. Khoiril menjelaskan, desa ini berawal dari sisa-sisa prajurit Pangeran Diponegoro. Para laskar yang bergerilya hingga daerah Menoreh tetap tinggal di situ kendati sang Pangeran ditangkap Belanda.

Pembentukan desa atas perintah Lurah Giritengah pada menantunya untuk mengolah tanah dan memekarkan desa hingga dinamai Karanganyar yang berati daerah baru. Ada empat nama tetua desa: Kyai Sutopo, kyai Ragil, Kyai Kundi dan Nyai Kalipah.

Nama Kalipah menjadi Nglipo, daerah yang warganya paling banyak membuat gerabah. “Kami berupaya ada peningkatan kualitas dari kerajinan turun temurun ini,” kata Kepala Urusan Umum Desa Karanganyar, Khoiril Anwar ketika saya bertamu ke balai desa.

Desa ini memiliki 615 kepala keluarga dengan 1843 jiwa. Secara umum, kecamatan ini masih mengandalkan sektor pertanian disusul jasa untuk menopang ekonominya. Padahal, selain gerabah, ada pula sentra produksi tahu dan kerajinan ukir bambu. Ada 1000 turis lokal dan 250 turis mancanegara yang disebut telah datang ke desa ini pertahun.

Untuk wisata alam, Karanganyar menjadi rujukan menikmati panorama matahari terbit. Beberapa lokasi semacam ini tersebar di sekitar Borobudur, seperti Punthuk Setumbu di Desa Karangrejo dan terbaru resor Paradise Hills di Kembanglimus.

Di sepanjang jalur ini, warga mengembangkan potensi lain berupa kuliner tradisional gula jawa dan lenteng atau semacam kerupuk dari ketela. Muhdirlan, 62 tahun, misalnya menjadikan lenteng sebagai sumber pemasukan, selain mata pencarian utamanya sebagai petani. “Sudah lima tahun menjual dan mengelilingkan lenteng,” kata dia.

Dalam catatan pihak kecamatan, keunikan lain Kembanglimus adalah jadi rujukan wisata reliji dengan adanya makam Kiai Ahmad Usul Bagelan, sesepuh desa setempat. Desa-desa tetangga juga tak kalah menarik. Candirejo, misalnya, ada live in di desa dan tur sepeda ontel. Giritengah memiliki sanggar budaya yang kerap menjadi tempat pertunjukan musik tradisional, juga jadi sentra budidaya madu.

Comments are closed.