Desa Giritengah, Pesona Indah di Lereng Menoreh

January 6th, 2016 | by Ida
Desa Giritengah, Pesona Indah di Lereng Menoreh
Culture
0

PUTHUK

Desa Giritengah merupakan salah satu Desa di Kecamatan Borobudur, yang terletak diujung selatan, berjarak kurang lebih 5 km ke arah barat daya dari Candi Borobudur.

Desa Giritengah berlatarbelakang perbukitan Menoreh dan didukung oleh kondisi alam yang masih alami, memiliki pemandangan alam yang indah mempesona.

Masyarakat Desa Giritengah kebanyakan hidup dalam suasana pedesaan yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi dan budaya. Nilai-nilai kemasyarakatan ini masih kental dan berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Dibalik keindahan alamnya, Desa Giritengah menyimpan penggalan cerita sejarah yang sangat bernilai, yakni sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro pada masa perang kemerdekaan (1825-1830).

Desa Giritengah pernah menjadi tempat persinggahan Pangeran Diponegoro. Beberapa tempat persinggahan beliau hingga kini masih terawat dengan baik dan menjadi petilasan yang bernilai sejarah.

 Potensi Alam

Panorama / pemandangan

Kondisi alam yang terdiri dari daerah berlereng dan daerah landai menciptakan panorama alam yang indah. Lingkungan yang masih alami mencerminkan alam pedesaan yang asri. Salah satu daya tariknya adalah keberadaan Puncak Suroloyo yang merupakan bagian dari Perbukitan Menoreh. Terdapat Gardu Pandang pada puncak tersebut, biasanya digunakan para pengunjung untuk beristirahat sambil melihat keindahan pemandangan sekitar. Diatas bukit terdapat jalan setapak yang merupakan batas wilayah Kabupaten Magelang dengan Daerah Istimewa Yogyakarta. Setiap tanggal 1 Suro diselenggarakan upacara ritual pencucian pusaka dan pentas kesenian tradisional. Namun sayang, event ini sudah dikelola terlebih dahulu oleh Pemerintah Yogyakarta.

Pertanian dan budidaya hasil pertanian

Mayoritas penduduk desa Giritengah bermata pencaharian sebagai petani. Lahan pertanian terdiri atas sawah, tegalan dan hutan rakyat. Hasil pertanian antara lain: padi, cabai, ketela, jagung, jahe, sayur-yauran, dll

Sedangkan hutan rakyat kebanyakan berupa pohon kaliandra dan pohon-pohon besar seperti sengon, sonokeling, dll. Kaliandra mulai populer di Giritengah sejak adanya penghaijauan tahun 1972. Tanaman kaliandra biasa ditanam diladang, terutama di lereng perbukitan menoreh. Selain berfungsi untuk penghijauan, daun kaliandra digunakan untuk pakan ternak, antara lain kambing dan sapi. Selain itu kayunya dapat digunakan untuk kayu bakar. Bunga kaliandra membantu lebah memproduksi lebah madu.

Di Desa Giritengah telah berkembang usaha budidaya lebah untuk menghasilkan madu, hal ini sangat didukung oleh kondisi lingkungan yang potensial, karena disekitar perbukitan menoreh banyak sekali jenis pakanan lebah seperti bunga pohon kaliandra, didukung oleh tanaman bunga jagung dan pohon pendamping seperti pohon randu. Peternak lebah tersebar di beberapa dusun. Kini paguyuban peternak lebah sudah didirikan untuk mewadahi kebutuhan para peternak lebah.

Potensi Sejarah

 Petilasan Sendang Suruh

Pada masa perang, Pangeran Diponegoro bergerilya dan singgah di Kalitengah selama 7 bulan di rumah Nyi Ageng Serang. Pangeran Diponegoro adalah seorang yang taat beragama. Saat beliau mencari sumber air untuk bersuci, akhirnya menemukan Sendang Suruh dan beliau beribadah disitu. Dahulu ada sebuah surau didekat sendan tersebut. Hingga saat ini sendang tersebut masih ada, airnya tak pernah habis meskipun musim kemarau. Di dekat sendang terdapat peninggalan berupa batu yang konon ada cap kakinya. Kini batu tersebut sudah dibalik dan dikelilingi oleh tembok setinggi 1 meter. Di sekeliling sendang terdapat hutan kecil bernama Hutan Suruh. Banyak tumbuh pepohonan rindang, serta beberapa pohon yang sudah sangat tua berumur ratusan tahun seperti pohon Kecik, Wadang, dan Bendo, terletak di sebelah sendang.

Pos Mati

Pos Mati merupakan nama sebuah puncak bukit yang terletak di sisi barat laut Desa Giritengah, berbatasan dengan Desa Ngadiharjo. Menurut sejarah, pada jaman perang digunakan oleh Pangeran Dipinegoro sebagai tempat pengintaian musuh serta tempat penyimpanan benda-benda pusaka seperti pedang, keris, tombak, dll. Di atas puncaknya terdapat 2 pohon pinus yang hidup sampai sekarang. Dari tempat ini kita bisa melihat sunrise di atas Candi Borobudur dan Gunung Merbabu.

 

Bukit Limasan

Bukit Limasan merupakan bagian dari perbukitan Menoreh yang menonjol keluar. Bukit ini juga erat kaitannya dengan sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro. Di salah satu bagian bukit Limasan terdapat sebuah batu yang dipercaya sebagai batu keramat. Batu tersebut bentuknya menyerupai babi / celeng sehingga disebut Watu Celeng.

 

Bale Kambang / Bale Gedhe

Bale Kambang adalah sebuah bangunan kecil yang dulu digunakan sebagai pos istirahat oleh Nyi Ageng Serang pada zaman Perang Diponegoro. Dulunya bangunan ini berupa pondok bambu, kemudian dibuat permanen pada masa kepemimpinan Bapak Lurah Sochib. Bale Kambang sampai saat ini masih dianggap keramat oleh masyarakat sekitar.

Batu Altar

Di dekat Balai Kambang, terdapat sebuah batu besar terletak di tepi jalan. Menurut legenda yang dipercaya masyarakat sekitar, dulunya batu tersebut berfungsi sebagai batu altar yang digunakan untuk acara persembahan. Dahulu terdapat arca diatas batu tersebut, namun saat ini sudah tidak ada. Diduga, batu altar ini memiliki kaitannya yang erat dengan Candi Borobudur sebagai salah satu tempat  ibadah umat budha. Hingga kini batu tersebut masih dianggap keramat oleh warga sekitarnya.

 

Masjid Tiban

Masjid tiban yang kini lebih dikenal sebagai Masjid An Nur ini sudah ada sejak jaman perang diponegoro. Imam pertamanya adalah Kyai Abdul Jahlil dari jogja. Sampai sekarang masjid ini masih berhubungan dengan pesantren di Watu Congol, Muntilan. Sesepuh masjid ini adalah Simbah Kyai Dalhar dari Watu Congol. Masjid An Nur telah berkali-kali mengalami perbaikan dan perluasan, namun empat buah sokogurunya masih terawat dengan baik.

Potensi Sosial Budaya

 Masyarakat

Struktur sosial masyarakat Desa Giritengah masih mencerminkan pola kemasyarakatan yang kuat. Pola Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) yang merupakan perkumpulan masyarakat lapis terbawah memeggang peranan yang kuat. Masyarakat menjunjung tinggi nilai gotong royong dan tepo sliro. Kegiatan rutin seperti yasinan, kerja bakti juga berjalan dengan baik. Masyarakat Desa Giritengah memiliki semangat tinggi untuk maju dan berkembang.

 

Kesenian Tradisional

Di Desa Giritengah terdapat berbagai macam kelompok kesenian tradisional antara lain: Ndayak, Jathilan, Kuda Lumping, Ndolalak, Gatholoco, Grasak, dll. Selain rutin berlatih dan pentas di lingkungannya sendiri, beberapa kelompok kesenian juga sering menerima undangan untuk berpentas di luar desa.

Tradisi dan Ritual

Ritual Sendang Suruh sudah ada sejak dulu, namun hanya terbatas oleh keluarga juru kunci saja. Pelaksanaannya setiap bulan Muharram (Suro). Sejak tiga tahun yang lalu ritual ini dikemas dalam bentuk yang lebih besar dengan nama Festival Sendang Suruh. Festival ini di laksanakan sekaligus dalam memperingati bulan Muharram serta acara Perti Desa. Festival ini diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat di Desa Giritengah. Festival Sendang Suruh terdiri dari ritual Sendang Suruh sebagai acara utama, ditambah pentas kesenian rakyat, gelar potensi desa, pengajian, dan kegiatan penunjang lainnya.

Selain ritual Sendang Suruh, di Dusa Giritengah masih berlaku tradisi ritual yang lain seperti Nyadran, Tingkeban, Mitoni, Wiwit, dan seterusnya.

 

Kerajinan

Seni kerajinan cukup berkembang di Desa Giritengah. Hingga saat ini terdapat beberapa usaha kerajinan ukir bambu, anyam bambu, serta ukir kayu. Seni ukir bambu antara lain menghasilkan lukisan Candi Borobudur yang kebanyakan di jual sebagai souvenir di Taman Wisata Candi Borobudur. Seni anyam bambu antara lain menghasilkan anyaman pagar bambu, mebel dan hiasan. Seni ukir kayu menghasilkan topeng kayu dengan corak yang khas.

Pasar Tradisional

Pasar tradisional atau biasa disebut  *warung* ini adalah pasar desa yang berlangsung setiap pagi mulai jam 6 hingga jam 9 pagi. Barang yang dijual antara lain: barang kelontong, sayuran, makanan matang, gerabah, baju, dll. Pada hari pasaran biasanya lebih ramai. Pasar ini tidak memiliki bangunan permanen, hanya menempati pinggir-pinggir jalan saja. Mereka menggelar dagangannya di tanah atau menggunakan lincak bambu dan membersihkan lingkungannya begitu selesai berjualan.

Peluang Pengembangan Wisata   

Saat ini Pemerintah Desa Giritengah bersama seluruh lapisan masyarakat tengah berupaya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Salah satunya dengan mengembangkan kegiatan wisata. Diharapkan dengan pengembangan wisata ini bisa mengoptimalkan potensi yang ada demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desa.

Hal lain yang mendasari adalah adanya Agenda Restorasi Borobudur tahap ke-2 yang antara lain berfokus pada pelestarian pusaka non-bendawi (intangible heritage) dan pembangunan komunitas (community development) di desa-desa sekitar Candi Borobudur.

Kegiatan wisata yang kami maksudkan di sini bukanlah untuk mengeksploitasi alam demi kepentingan manusia, namun justru dengan kegiatan yang ada diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan akan semakin tinggi, termasuk kandungan nilai sejarah dan budaya di dalamnya. Dengan demikian kami berharap kegiatan ini bisa turut melestarikan alam dan lingkungan.

Beberapa alternatif pengembangan wisata yang kami rencanakan antara lain

Wisata Sejarah

Situs sejarah yang berkaitan dengan kisah kepahlawanan Pangeran Diponegoro menyimpan daya tarik tersendiri. Kegiatan wisata sejarah berupa napas tilas dimaksudkan untuk menelusuri jejak kisah Pangeran Diponegoro.

Trekking

Kondisi geografis yang berlereng dan menyajikan pemandangan yang indah sangat menjanjikan untuk aktivitas trekking. Puncak Suroloyo atau pun Pos Mati bisa dijadikan salah satu tujuan yang menarik, apalagi Pos Melati merupakan spot yang bagus untuk menikmati matahari terbit (sunrise).

Pertanian

Kegiatan bertani pun bisa menjadi salah satu pilihan. Pengunjung bisa belajar sekaligus praktek bertani yang sesungguhnya.

Peternakan lebah madu

Madu sebagai salah satu produk unggulan Desa Giritengah sangat sayang untuk dilewatkan. Pengunjung bisa melihat lebih dekat bagaimana proses pembuatan madu oleh para peternak madu.

Untuk mewujudkan program-program di atas kami siap bekerjasama dan menjalin sinergi dengan pihak-pihak yang berkompeten.

Akses

Desa Giritengah dapat dijangkau dengan mudah menggunakan sarana transportasi umum berupa mobil angkutan pedesaan atau ojek sepeda motor dari terminal / pasar Borobudur.

 

 

Comments are closed.