Desa Wisata Candirejo

January 5th, 2016 | by Ida
Desa Wisata Candirejo
Culture
0

candirejo

Desa Candirejo, menurut kata turun temurun nama Candirejo berasal dari kata Candighra. Seiring waktu berjalan, terjadi perubahan kata atau penyebutan, Candighra kemudian berubah menjadi Candirga dan selanjutnya berubah lagi menjadi Candirja, dan pada akhirya seperti nama desa tersebut saat ini, yaitu Candirejo. Bila diuraikan, kata Candi (bahasa Jawa) berarti batu dalam bahasa Indonesia, dan kenyataannya separuh dari luas wilayah desa Candirejo berupa daerah berbukit yang masuk dalam kawasan pegunungan Menoreh yang merupakan bekas gunung api. Keberadaan batu itu juga tersimbolkan dalam beberapa nama tempat yang terkait dengan mitos setempat tentang bebatuan seperti Watu Kendhil, Watu Ambeng, Watu Dandang yang terletak di dusun Butuh, Watu Tambak, Watu Tumpuk, Watu Asin, Watu Cekathak yang letaknya di dusun Sangen dan Kaliduren. Kata Rejo sendiri berarti subur dan ini merupakan perlambang kesuburan tanah dataran Candirejo, meskipun merupakan tanah lahan kering. Pada akhirnya Candirejo dapat diartikan sebagai wilayah yang banyak batu-batunya tetapi subur.

Versi lain mengatakan bahwa nama Candirejo bermula dari ditemukannya candi di tempat ini. Berdasarkan bukti-bukti peninggalan di desa Candirejo, pernah terdapat sebuah candi yakni candi Brangkal (lokasinya di dusun Brangkal). Bukti peninggalan tersebut berupa batu candi, batu bata, arca, yoni dan sebagainya, yang merupakan peninggalan agama Hindu. Desa Candirejo adalah satu dari sepuluh desa yang dijadikan sasaran pelaksanaan NRM-LCE Project. Natural Resources Management for Local Community Empowerment (NRM-LCE) Project atau Proyek Pengelolaan Sumber-sumber daya Alam bagi Keberdayaan Masyarakat Lokal adalah proyek yang dilaksanakan antara Yayasan PATRA-PALA, masyarakat setempat dan pemerintah daerah kabupaten Magelang yang didukung oleh dana hibah dari Japan International Corporation Agency (IICA). Proyek ini merupakan pengembangan sebuah program konservasi untuk kawasan pegunungan Menoreh melalui pemberdayaan masyarakat setempat untuk mengkonservasi candi Borobudur sebagai satu monumen nasional dan warisan budaya dunia.

Desa Candirejo memiliki masyarakat yang mempunyai semangat untuk maju dan berkembang,
di tingkat pemerintah desa maupun masyarakat luas pada umumnya. Kebudayaan yang berkembang dalam masyarakatnya menjadi potensi yang bisa dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata berbasis masyarakat, yakni kerajinan pandan-bambu, sistem pertanian, budaya, tempat-tempat potensial untuk melakukan kegiatan pengamatan aktivitas harian masyarakat, keindahan pemandangan dan kegiatan trekking.

Kehidupan masyarakat desa Candirejo yang masih agraris didominasi oleh kegiatan pertanian. Jika mereka ingin menjual hasil panen dalam jumlah besar maka mereka akan menuju ke pasar Borobudur atau pasar Jagalan. Delman (andong) merupakan alat transportasi setempat yang masih banyak dipergunakan untuk kegiatan ekonomi antardesa. Rumah tradisional mereka berbentuk rumah jawa Kampung dan Limasan. Rumah dan dapur merupakan bagian yang terpisah dan ini masih tampak pada beberapa rumah. Kayu bakar masih merupakan pilihan utama sebagai bahan bakar rumah tangga.

FASILITAS WISATA:

Daya tarik wisata

Sebagai salah satu desa yang menjadi sasaran program NRE-LCE, desa Candirejo diharapkan dapat mempertahankan keasliannya, baik tradisi penduduknya, maupun lingkungan alam sekitarnya. Oleh karena itu, daya tarik wisata utama dari desa Candirejo adalah segala keunikannya, berupa kebudayaan tradisional, terkait keaslian kehidupan desa yang alami. Pemberdayaan masyarakat akan manfaat alam sekitar merupakan salah satu agenda dalam program NRE-LCE. Hasil dari proses ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat secara ekonomi. Salah satu tolak ukur dari keberhasilan program ini adalah adanya hasil-hasil kerajinan yang dibuat oleh masyarakat desa Candirejo dengan memanfaatkan alam sekitarnya. Hasil-hasil kerajinan khas desa Candirejo dapat menjadi cinderamata dari desa ini kepada para pengunjungnya.

Upacara Adat

Nyadran adalah upacara adat mengirim doa untuk leluhur yang dilaksanakan setahun sekali, yakni pada bulan Ruwah (bulan pada kalender Jawa), dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Upacara Nyadran di tingkat desa dilaksanakan di gunung Mijil, sebuah bukit kecil yang terletak di perbatasan desa, yang dipimpin oleh juru kunci gunung Mijil. Sedangkan upacara Nyadran di tingkat dusun dipimpin oleh kepala dusun atau tokoh agama. Dalam upacara ini juga diberikan sesajian kepada para leluhur yang dimaksudkan agar para leluhur juga menikmati hasil bumi selama ini. Makanan yang disiapkan untuk upacara ini adalah Ingkung, yakni ayam utuh yang direbus dengan bumbu rempah-rempah atau dalam istilah setempat di-“ukep”. Ingkung kemudian disajikan bersama dengan nasi dan sayuran.

Upacara besar lainnya adalah Saparan dan Perti Desa (Bersih Desa/Sedekah Bumi) yang
dilaksanakan setahun sekali pada tanggal 15 bulan Sapar (kalender Jawa) di Balai Desa.
Tujuan upacara ini adalah wujud syukur atas panen yang telah berlalu, sekaligus permohonan
kepada Tuhan Yang Maha Esa agar keselamatan senantiasa dilimpahkan dan hasil pertanian
semakin meningkat. Bentuk dari Saparan adalah upacara Perti Desa yang mempunyai arti
memelihara dan menata desa agar lebih bermanfaat.
Rangkaian acara Perti Desa adalah:

a. Sedekah Bumi/Selamatan Desa

Komponen selamatan desa adalah;
– Nasi gurih berbentuk tumpeng dan kelengkapannya, ingkung ayam jago. Makna tumpeng
sebelum datangnya pengaruh ajaran Islam yang dibawa oleh Wali Sanga, ialah gambaran gunung keramat Himalaya dengan puncak Suralaya tempat bertahtanya para Dewa (menurut ajaran Hindu). Ingkung ayam jago bermakna suatu penyerahan diri secara utuh dan bulat (tidak mendua) dan ajeg selamanya. Namun setelah ajaran Islam masuk dengan pengaruh ajaran Wali Sanga (khususnya sunan Kalijaga), hal tersebut dimaknai simbol hormat dan ketaatan kepada kanjeng nabi agung Muhammad SAW, sehingga nasi tumpeng gurih dan ingkung ayam jago dinamai Rasulan.
– “Golong Milang Dusun” yang berwujud nasi golong sejumlah 15 (lima belas) dan merupakan
perlambang 15 dusun yang ada di desa Candirejo.
– Nasi Golong sejumlah 9 (sembilan) buah bermakna “golong-gliging” (Jawa; niat),
“manunggale Kawula Gusti” (Jawa; bersatu seluruh masyarakat dan pemimpinnya),
bersatunya “jagad cilik” (Jawa; mikrokosmos) dan “jagad gedhe” (Jawa; makrokosmos).
Sedangkan bilangan 9 (angka sembilan) adalah angka agung, sebab dikalikan dengan angka berapapun bila angkanya dijumlahkan selalu menghasilkan angka 9.
– “Larakan” (Jawa; sajian) yang terdiri atas hasil bumi yang disebut “pala kepedhem”,
“pala gumantung”, “pala kasimpar” yang bermakna permohonan agar hasil pertanian
membawa barakah dan manfaat.
– “Golong Kencana” (Jawa; golong ketan yang ditutup dan didasari telur dadar dan
tanpa garam). Awalnya untuk “bekti Dewi Pertiwi”; setelah ada pengaruh Islam,
bertujuan untuk berbakti dan mengenang jasa dewi Siti Fatimah, putri Rasulullah SAW;
bahwa panutan wanita adalah Siti Fatimah (masyarakat desa menyebutnya dengan nama
Dewi Siti Pertimah).

b. Wayangan

Dalam Wayangan, hal yang perlu dipersiapkan adalah sajian(hidangan) Sebagai berikut:

– Jajan pasar, melambangkan permintaan, supaya para petani mudah menjual hasil panennya
dan pedagang mudah mencari dan menjual dagangannya serta mendapat keuntungan.
Ingkung panggang, maksudnya adalah untuk mengingat asal mula kejadian manusia,
bahwa manusia berasal dari tidak ada menjadi ada dan kembali tidak ada.
– Kelapa dua pasang, melambangkan bahwa hakekatnya isi dunia itu ada dua,
yaitu siang dan malam, sedih gembira, miskin kaya, mati dan hidup dan seterusnya.
– Ayam kecil (hidup), melambangkan sesuatu yang dimintakan itu dapat hidup dan berlanjut.
Hidup adalah tumbuh dan berkembang, misal lahir, merangkak, berjalan dan menjadi besar.

Upacara-upacara adat di atas merupakan perlambang hubungan antara manusia dengan Tuhan-nya, manusia dengan leluhurnya, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan lingkungannya. Simbol itu muncul dalam bahasa Jawa, “Memetri Bapa Ngangkoso Ibu Pertiwi”. Bapa Ngangkoso adalah perlambang langit yang merupakan datangnya hujan; air untuk kehidupan, Ibu Pertiwi adalah perlambang bumi yang merupakan sumber kehidupan. Simbol tersebut menjadi perlambang hubungan bumi (alam/lingkungan) dengan manusia yang juga muncul dalam berbagai bentuk upacara yang lain; seperti kenduren, selamatan, mithoni dan upacara adat lainnya.

Kesenian Tradisional

Desa Candirejo juga memiliki sejarah sebagai tempat persinggahan pengikut pangeran Diponegoro (salah satu pahlawan perjuangan Indonesia) ketika berperang dengan tentara Belanda sekitar tahun 1825. Sebagai peninggalan budaya, momen itu tercurah dalam satu arian yang dikenal dengan nama Jathilan, yang menggambarkan latihan perang pasukan berkuda pangeran Diponegoro. Kesenian ini berkembang sejak tahun 1920-an dan memiliki beberapa versi.

Musik pengiring dari kesenian ini adalah karawitan. Jenis kesenian lainnya adalah kesenian wayang. Kesenian ini muncul ketika pengaruh agama Budha memasuki pulau Jawa. Wayang digunakan untuk menyebarluaskan ajaran agama Budha dan pihak kerajaan menggunakannya menjadi media penyampai pesan. Sampai saat ini kesenian wayang berkembang menjadi media pembelajaran masyarakat tentang nilai dan norma yang harus dimiliki manusia. Ada beberapa jenis wayang dalam kebudayaan Jawa, yakni wayang orang, wayang kulit dan wayang golek. Pementasan wayang kulit kerap dilakukan bila ada upacara adat atau saat hajatan desa. Keunikan wayang kulit adalah ia terbuat dari kulit kambing yang telah disamak dan dikeringkan, kemudian diukir sesuai dengan karakter peran dan alur cerita dalam kitab pewayangan. Setelah pengaruh budaya agama Budha, maka terjadi peralihan ke budaya yang dibawa oleh agama Islam. Pengaruh ini tampak dalam jenis kesenian yang kemudian muncul di desa ini, seperti tarian Gatholoco/Wulangsunu, Kubrosiswo dan Shalawatan dengan isi syairnya berupa tuntunan hidup bagi umat manusia.

Tarian Gatholoco/Wulangsunu dipentaskan secara berpasangan dalam baris berbanjar dan
berjumlah genap. Dinamakan kesenian Wulangsunu karena dalam syair-syairnya ada bab
wulangsunu. Wulangsunu berasal dari kata wulang yang artinya mendidik, memberi nasihat
dan sunu yang berarti anak. Kesenian ini berfungsi ganda sebagai sarana hiburan dan sebagai tuntunan.

Kesenian lain adalah Kubrosiswo, yang termasuk salah satu jenis kesenian Magelang. Kesenian ini ada sejak tahun 1965 di desa Candirejo. Ini adalah satu jenis kesenian yang bernafaskan Islam. Musik pengiring mirip dengan lagu perjuangan dan qasidah, tetapi liriknya telah diubah sesuai misi Islam.

Cinderamata

Kerajinan Pandan
Desa Candirejo dan sekitarnya, yang terletak di pegunungan Menoreh memiliki kekayaan sumber daya alam pandan. Pandan ditanam sebagai tanaman pembatas antarlahan dan tepi jalan. Tanaman ini banyak ditemui di bagian atas desa Candirejo, yakni di dusun Ngaglik, dusun
Wonosari, dusun Kerekan dan dusun Butuh dengan lahan seluas kira-kira (18 ha). Agak berbeda dengan pandan yang ditanam di tepi pantai, ukuran daun pandan di kawasan pegunungan Menoreh ini lebih kecil dan sempit. Pandan menjadi berpotensi sebagai bahan baku kerajinan karena sifat serat daunnya yang keras. Masyarakat menggunakan teknologi sederhana untuk mengolahnya menjadi bahan baku pembuatan tikar pandan. Pandan yang telah menjadi tikar kemudian dipergunakan sebagai bahan baku pembuatan berbagai macam produk kerajinan tas, kuda Jathilan kecil, dan produk lain yang telah diproduksi dalam jumlah terbatas dan dipasarkan di pasar desa, dan pasar cinderamata yang berada di taman candi Borobudur.

Kerajinan Bambu

Desa Candirejo memiliki sumber daya bambu yang berlimpah terutama di daerah bantaran sungai Sileng dan sungai Progo. Empat jenis bambu yang tumbuh dan banyak dipergunakan adalah jenis pring wulung (bambu hitam), pring petung (bambu berdiameter besar), pring legi, dan pring ijo (bambu apus). Masyarakat desa Candirejo memanfaatkan bambu untuk membuat perabot rumah tangga, peralatan dapur, pagar rumah, penyangga pohon rambutan serta dinding rumah. Selain untuk keperluannya sendiri, masyarakat Candirejo juga banyak yang memanfaatkan bambu sebagai sarana penghasilan tambahan. Bambu banyak dipakai untuk membuat kerajinan tangan dan perabot rumah tangga yang dapat dipesan dan dibeli oleh para pelancong. Hasil-hasil olahan bambu yang ada di desa Candirejo antara lain adalah rak buku, tempat tidur, kursi, dan lukisan bambu.

Sarana Akomodasi

Desa Candirejo dilengkapi dengan sarana akomodasi yang cukup baik. Untuk mempertahankan
suasana pedesaan yang masih asli, maka sarana akomodasi yang disediakan di desa Candirejo
berupa pondok-pondok penginapan (home stay) yang diusahakan sendiri oleh masyarakat
desa Candirejo.

Paket Wisata

Desa wisata Candirejo menawarkan beberapa paket wisata. Di bawah ini merupakan daftar
paket-paket wisata yang terdapat di desa Candirejo.

Tamasya Keliling Desa

Paket ini menawarkan eksplorasi penjelajahan desa Candirejo, baik dengan berjalan kaki, atau menggunakan sarana angkutan delman (andong) desa. Pada kesempatan ini, para pelancong akan disuguhi dengan keunikan tradisi dan budaya masyarakat setempat, kesenian dan kerajinan rakyat, serta metode sistem pertanian tradisional.

Wisata Menoreh

Paket ini menawarkan kesempatan kepada para pelancong untuk mendapatkan pengalaman
yang tak terlupakan tentang kehidupan sehari-hari dari masyarakat yang tinggal di kawasan Menoreh. Pada kesempatan ini, para pelancong akan menemukan kehidupan habitat asli dari burung-burung yang hidup di daerah ini. Para pelancong juga dapat menikmati keindahan kebun-kebun tanaman obat dan melihat sistem pertanian tradisional yang diterapkan.

Sistem Pertanian Desa

Paket wisata ini akan meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya pelestarian dan pemeliharaan sumber-sumber daya alam, terutama yang berada di desa Candirejo. Para pelancong dapat langsung merasakan dan mengerjakan bagaimana rasanya berinteraksi dengan alam di areal pertanian, juga dapat ikut berpartisipasi dalam memanen buah-buahan segar langsung dari lokasi pembudidayaannya.

Aktifitas Sungai

Ingin dapat menangkap ikan selincah para penduduk lokal? Bila ya, mari ikuti paket wisata ini dan bergabung dengan komunitas “Nylantrang” (komunitas para penangkap ikan). Para pelancong dapat merasakan sendiri asyiknya menangkap ikan di sungai,juga dapat menikmati segarnya berenang dan mandi di sungai, tentu saja semua itu dalam pengawasan pemandu wisata.

Pendidikan Lingkungan (alam)

Paket wisata ini menawarkan pendidikan tidak langsung tentang lingkungan hidup kepada para pelancong. Para pelancong diharapkan dapat mengerti dan sadar akan pentingnya pelestarian dan pengelolaan alam dan lingkungan demi kelangsungan hidup saat ini dan generasi mendatang. Pelajarilah sistem pertanian organik, proses produksi bibit-bibit organik, dan bentuk pelestarian alam yang dilakukan oleh masyarakat setempat, misalnya “ilag-ilag’.

Kehidupan Masyarakat Setempat

Para pelancong dapat tinggal di sebuah pondok penginapan milik penduduk, dan merasakan
langsung suasana tradisional Jawa yang masih sangat melekat di tiap-tiap keluarga. Di
sini, para pelancong dapat mengamati rutinitas sehari-hari dari masyarakat setempat,
mulai dari menyiapkan masakan, cara memasak, sampai suasana tinggal di rumah-rumah desa.

Kesenian Tradisional

Para pelancong memiliki kesempatan untuk menikmati berbagai kesenian tradisional di desa Candirejo. Tiap-tiap kesenian memiliki karakteristiknya masing-masing. Aktifitas menikmati kesenian tradisional di tengah-tengah komunitas penduduk desa akan memberikan nuansa tersendiri bagi para pelancong.

Pusat Informasi Pariwisata

Koperasi Desa Wisata Candirejo
Sangen, Candirejo, Borobudur, Magelang
Jawa Tengah, Indonesia 56553
Telepon: +62(293)788608
Telepon Seluler: (+62)8175414855 [Nama kontak: Ian],
(+62)81328808520 [Nama kontak: Tatag]

 

Sumber: Central Java Tourism

Comments are closed.