Menanti Menoreh Kuning di Kulonprogo

January 1st, 2016 | by Ida
Menanti Menoreh Kuning di Kulonprogo
Culture
0

Sentra Pemberdayaan Tani (SPT) merupakan program desa binaan CSR Pertamina. Setelah sukses membina dan mendampingi masyarakat Desa Wonokerto, Semarang, Jawa tengah, mengembangkan agrowisata buah naga, kali ini SPT Pertamina menyasar ke masyarakat Desa Banjaroya, Kabupaten Kulonprogo, DIY, yang masih berada di sekitar wilayah operasi Terminal BBM Rewulu.

Desa Banjaroya dan sekitarnya merupakan daerah perbukitan yang kering dan pertaniannya masih tertinggal sehingga tingkat sosial ekonomi warganya masih rendah. Sebagian besar kondisi tanah di desa tersebut kurang produktif.

Bekerja sama dengan Yayasan Obor Tani, sejak 2013, Pertamina memberdayakan masyarakat Desa Banjaroya untuk memanfaatkan lahan kurang produktif tersebut.

Dengan bantuan modal bibit pohon, pupuk pelatihan, dan pembinaan, lahan tersebut saat ini telah berhasil ditanami pohon durian menoreh kuning.

Keunggulan durian menoreh kuning diantaranya daging buahnya berwarna kuning kemerahan dan rasanya lebih manis dibandingkan dengan jenis durian lainnya. Keunggulan ini membuat durian menoreh kuning memiliki harga pasaran lebih tinggi dibandingkan durian montong.

Bibit pohon durian menoreh kuning ditanam di lahan-lahan milik warga dan tanah bengkok yang dipinjamkan pemerintah desa untuk dimanfaatkan warga. Total luas lahan yang ditanami sekitar 20 hektare dengan jumlah 3.000 pohon.

Sejak penanaman bibit pohon tahun 2013, maka diharapkan hasil dapat dipanen pada 2016. Harga per kilogram durian menoreh kuning di pasaran Rp35.000 – Rp45.000. Setiap petani rata-rata memiliki 15 – 20 pohon. Apabila setiap pohon sedikitnya menghasilkan tiga buah durian maka saat panen petani akan memetik hasil tidak kurang dari Rp1.575.000. Di samping itu, para petani berinisiatif menanam tanaman sela yang dapat memberikan pemasukan tambahan.

Program SPT ini memberikan manfaat di beberapa aspek. Di aspek ekonomi sudah jelas rejeki akan dirasakan oleh petani dan warga dari hasil panen durian dan agrowisata.

Di aspek lingkungan, dengan pemanfaatan lahan kurang produktif untuk perkebunan buah durian, maka meningkatkan cadangan air dalam tanah dan daya serap karbondioksida. Sedangkan di aspek edukasi, para petani mendapatkan pengayaan pengetahuan mengenai teknologi budidaya pertanian.

“Tadinya saya bertani ya secara tradisional saja. Saya bersyukur mendapatkan pelatihan ini, jadi tahu cara bertani yang lebih modern,” ungkap Soleh, salah satu petani SPT.

Selain pelatihan, bibit pohon, pupuk, biaya pemeliharaan selama 3,5 tahun, dan biaya pengendalian hama penyakit, bantuan yang diberikan Pertamina juga meliputi pembangunan waduk mini seluas 1 hektare, wisma tani, dan fasilitas pelengkap di kebun durian yang kini telah menjadi obyek agrowisata itu, seperti patung durian, jogging track, dan gazebo-gazebo.

“Melalui program SPT Pertamina, kami berharap dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat dengan memanfaatkan lahan tidak produktif menjadi sumber penghasilan, baik dari hasil panennya maupun dari agrowisata,” tutur Vice President Communication Wianda Pusponegoro. Benar saja, bahkan, saat ini Desa Banjaroya sudah cukup ramai didatangi pengunjung sebagai tujuan wisata.

“Tahun depan, kami berharap pohon-pohon durian itu mulai berbuah dan akan semakin ramai dikunjungi wisatawan. Kami berdoa semoga program ini sukses. Pertamina bangga menjadi bagian dari upaya terbangunnya kemandirian ekonomi masyarakat. Semua kesuksesan ini tentunya tidak terlepas dari kemauan masyarakat Desa Banjaroya untuk maju, dukungan pemerintah daerah, serta kerjasama Yayasan Obor Tani,” tambah Wianda.

Dalam setiap program desa binaan, Pertamina melakukan pendampingan selama 2-3 tahun. Program ini terbukti telah memberikan manfaat besar dan menciptakan efek domino perekonomian masyarakat, serta sangat diapresiasi oleh pemerintah daerah.

39_20140227010645

Comments are closed.