Jathilan, Seni Bermain dengan Roh

December 26th, 2015 | by Ida
Jathilan, Seni Bermain dengan Roh
Art
0

20140420115827

RAGAM kesenian di Jawa Tengah sungguh tak terhitung jumlahnya. Wayang purwa, kethoprak, wayang wong, adalah segelintir dari ratusan kesenian yang mewakili tiap-tiap daerah. Tak jarang, kesenian tradisional daerah setempat mempergunakan hal-hal mistik yang teramat kental. Sebagai contoh kesenian Sintren yang memanggil roh bidadari, atau kesenian Nini Thowok yang mengundang roh untuk masuk ke dalam boneka. Begitupun dengan kesenian Jathilan, yang kemudian lebih populer dikenal dengan jaran kepang atau kuda lumping atau ebeg Banyumasan.

Dalam rentetan sejarah, kesenian Jathilan ditujukan untuk memanggil roh-roh nenek moyang. Di sini, sang pemain Jathilan bertindak sebagai perantara. Dalam kondisi kesurupan itulah, pemain Jathilan mampu melakukan hal-hal di luar nalar. Dukun yang bertindak sebagai pawang harus lebih bekerja ekstra keras. Biasanya roh yang telah menempati wadag sang penari akan mengajukan banyak permintaan.

Konon, kesurupan timbul akibat alunan irama musik yang khusus dan berirama statis dengan gerakan-gerakan yang monoton. Pemain menari dengan berkonsentrasi terhadap keyakinan akan datangnya roh-roh tersebut. Sang pemain akan merasakan pusing, terhuyung-huyung, hingga kehilangan daya pikir dan mudah untuk menjadi perantara roh halus.

Jathilan Riwayatmu Kini

Pergeseran zaman turut mengubah ubarampe kesenian Jathilan. Perubahan tersebut nampak dari alat musik, bentuk kuda, serta busana penari. Untuk alat musik, saat ini banyak ditambahkan kecek, demung, kenong, kelining, dan lain-lain. Demikian juga dengan bentuk kuda lumping yang kini dibuat lebih kecil dan mengutamakan keindahan. Busana penari Jathilan pun lebih lengkap ketimbang era sebelumnya.

Selain itu, tari Jathilan yang dulu hanya dipentaskan pada hari-hari tertentu seperti upacara bersih desa, kini bergeser menjadi tarian penyambutan tamu atau hiburan semata. Malahan kerap kali dipentaskan dalam format pawai, dengan penari berjumlah tujuh hingga 21 orang, atau dipentaskan dalam bentuk sendratari. Untuk sendratari, lakon yang dipergelarkan antara lain cerita Panji Asmorodono dan Panji Asmarabangun. Untuk kepentingan-kepentingan ini, barangkali kehadiran roh-roh halus sudah tak terlalu diutamakan. Justru nilai-nilai estetis-lah yang terus dikembangkan dan dihadirkan dalam setiap pagelaran.

sumber SM

Comments are closed.