Homestay Kebondalem, Serasa Rumah Sendiri

December 14th, 2015 | by Ida
Homestay Kebondalem, Serasa Rumah Sendiri
Culture
0

SUASANANYA begitu njawani. Bangunan induk bergaya limasan, berikut sebuah pendopo joglo di bagian depan. Meski didominasi warna coklat (genteng, dinding papan, dan tiang-tiangnya semua berwarna coklat) kesan ‘segar’ tetap saja terasa di sana. Maklum, kedua bangunan di Homestay Kebondalem itu, baru saja rampung setahun lalu. Njawani, dan ‘segar’ karena relatif anyar.

Bangunan induk Homestay Kebondalem terdiri dari empat kamar tidur, sebuah ruang tamu, ruang makan berikut dapur dan kamar mandi. Kamar-kamar tidurnya rata-rata berukuran 3 x 6 meter. Dinding berbahan papan serta sirkulasi udara yang baik, membuat hawa tetap saja terasa sejuk, walau di siang hari sekali pun. Sehingga, air conditioner alias pendingin udara tak lagi diperlukan. Total ukuran bangunan ini 8 x 12 meter, sedangkan pendopo 8 x 10 meter.

Konstruksi kedua bangunan tersebut kebanyakan dibuat dengan kayu nangka. Khusus untuk bangunan induk, tiang-tiangnya dibikin dari kayu jati. Sebagai atap, didatangkanlah genteng Sokka dari Kebumen, Jawa Tengah dan genteng lokal kualitas terbaik.

“Masih mau tambah dua bangunan lagi,” kata Muhammad Kastolani Rosyid (69), pemilik Homestay Kebondalem, baru-baru ini. Ia membangun usaha penginapan ini pada tanah seluas 1.250 meter persegi, di Dusun Bumisegoro RT 1 RW 8, Borobudur, Magelang. Karena baru terdapat dua bangunan, di situ masih tersisa lahan yang cukup luas. Selain berencana menambah dua bangunan lagi, pada sisa tanah itu juga akan didirikan taman dan sebuah musala.

Kastolani menyewakan homestay-nya dengan tarif Rp 500 ribu per malam. Mula-mula, tamu yang datang hanya menginap satu-dua malam. Tapi kemudian, tak jarang ada yang tinggal hingga seminggu. Kadang jumlahnya bukan cuma beberapa orang, melainkan puluhan.

“Pernah menginap, mahasiswa UNY (Univer-sitas Negeri Yogyakarta) 60 orang. Karena di bangunan induk tidak cukup, sebagian tidur di pendopo. Pernah juga satu keluarga besar dari Jakarta, puluhan orang juga tinggal di sini,” ungkapnya.

Berada di tengah dusun yang hanya berjarak sekitar 150 meter di sebelah selatan Candi Borobudur, Homestay Kebondalem menyatu dengan suasana sekelilingnya, yang kental dengan nuansa khas perdesaan Jawa. Tenang, silir, adem, jauh dari hiruk-pikuk serta kesemrawutan kota.

Di halaman homestay akan sesekali terlihat, penduduk yang melintas memanggul kayu bakar, atau mengusung rumput untuk pakan ternak. Di sini, memang tak ada sekat eksklusivitas homestay sebagai sebuah fasilitas bisnis, dengan kehidupan sosial dan ekonomi penduduk dusun Bumisegoro.

Comments are closed.