Topeng Ireng Sebagai Media Syiar Islam

December 7th, 2015 | by Ida
Topeng Ireng Sebagai Media Syiar Islam
Art
0

topeng ireng 4

 

Ayo para kanca padha olahraga, supaya badane rosa | Sinambi maca erang-erang kawula miturut agama. (Mari teman-teman berolahraga, agar badan sehat. Sambil membaca doa sesuai dengan agama yang kita anut).
Ayo para sedulur Islam sedaya bebarengan ngurmatana | Maring Mi’raj’e junjungan Nabi kita, Nabi Muhammad kang mulya. (Saudara Islam semua mari bersama mengutamakan junjungan Nabi Muhammad SAW).
Ayo para kaum muslimin muslimat sarta pemuda fatayat | Padha giata anggone ngurmati maring Mi’raj Nabi Muhammad. (Mari para kaum muslimin dan muslimat serta pemuda dan fatayat, lebih rajin menghormati dan mencintai Nabi Muhammad).
Lamun wong urip ra gelem ngurmati | Mbesuk yen ana akhirat bakal kaparingan siksa lan laknat geni naraka kang mbulat. (Jika manusia tak mau menghormati dan mencintai Nabi Muhammad, maka besok di akhirat akan mendapatkan siksa dan laknat api neraka).
Namun kang pada golong ngurmati maring Mi’raj Njeng Nabi | Mbesok yen kita tumeka ing pati diganjar suwarga kang edi. (Jika semua golongan menghormati pada Mi’raj Nabi Muhammad, maka besok jika telah sampai pada kematian dan hari akhir akan diberi surga yang bagus dan mendapatkan syafaat-Nya).
Lafal Innaddina Indallahil Islam iku dhawuhe Pangeran | Agama mungguhe Gusti Allah, Islam iku den lakoni tenan. (Kalimat Innaddina Indallahil Islam itu datang dari Allah. Agama menurut Allah, Islam itu harus dijalankan sungguh-sungguh).
SYAIR di atas merupakan tembang yang biasa dinyanyikan pada saat pertunjukan kesenian tradisional Topeng Ireng. Setidaknya itu bisa memberikan gambaran bahwa liriknya mengandung syiar Islam.
Jika ditafsirkan, tembang tersebut mengingatkan kepada seluruh umat Islam untuk senantiasa mencintai Nabi Muhammad agar mendapat syafaat-Nya. Kemudian Mi’raj Nabi Muhammad bisa juga ditafsirkan sebuah perintah salat lima waktu yang dibawa Rasul.
Bagi mereka yang tak mengingat Rasul, apalagi tak menjalankan salat seperti yang diperintahkan Allah, maka di akhirat nanti akan mendapatkan siksa neraka. Berbeda dengan orang yang menjalankan salat dan mencintai Rasulullah, maka akan mendapatkan balasan surga dan syafaat Rasulullah.
Dalam syair tersebut juga ada kalimat berbahasa Arab ‘’Innaddina Indallahil Islam’’ yang artinya: Sesung-guhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam. Dakwah yang disampaikan dalam syair itu, meng-ajak masyarakat mengakui bahwa Islam paling diridhoi dan harus dijalankan dalam keseharian.
Memang, belum ada pakem atau referensi sejarah munculnya kesenian ini sebagai media dakwah. Namun hampir semua syair Topeng Ireng, baik di kawasan lereng Bukit Menoreh, Gunung Merbabu, Merapi, maupun Sumbing, bermuatan syiar Islam.Ketua I Asosiasi Kesenian Rakyat Borobudur (Askrab), Wasis (27) mengatakan akar dari Topeng Ireng adalah Rodad atau Gandul Muslimin. Tembang yang digunakan dalam seni pertunjukan tersebut bermuatan syiar Islam, dan dipertahankan hingga sekarang.
‘’Di Borobudur, ada 20 kelompok Topeng Ireng yang masih eksis hingga sekarang. Padahal di seluruh Kabupaten Magelang, selain Borobudur, hanya ada belasan kelompok. Di Borobudur jumlahnya lebih banyak karena asal-usul Topeng Ireng dari sini,’’ lanjut Wasis.
RELIEF menelusuri asal mula Topeng Ireng di Desa Tuksongo, Borobudur. Di sana menemui salah satu keturunan Ahmad Sujak, yakni Teguh Nur Ahmad (70). Ahmad Sujak –nama populernya Mbah Sujak—adalah salah seorang seniman yang melakukan revitalisasi kesenian tradisional Rodad menjadi tari Topeng Kawedar. Ia meninggal pada 1985 di usia 90 tahun.
Teguh menceritakan, Topeng Ireng dulunya adalah Topeng Kawedar. “Dulu, banyak masyarakat yang bergu-ru kepada bapak saya. Desa Tuksongo dulu sangat popu-ler dengan pertunjukan Topeng Kawedar, dengan ciri khas sesi pertarungan hewan-hewan buas,” paparnya.
Namun setelah terjadi pembaharuan menjadi Topeng Ireng, lanjut Teguh, generasi penerus di Desa Tuksongo semakin minim. Para pemuda banyak yang tak tertarik lagi untuk meneruskan kesenian tersebut.
“Padahal, kini generasi tua yang masih setia pada Topeng Ireng jumlahnya kian menyusut,” ungkap Teguh prihatin. “Jika ada yang menghendaki pertunjukan Topeng Ireng dari Tuksongo, sebagian pemain dan penabuhnya diambil dari desa-desa lain yang masih bersemangat meneruskan kesenian tradisional.”
Desa Tuksongo aktivitas sebagian besar pendu-duknya adalah bertani. Apalagi ketika musim tanam tembakau tiba, mereka sibuk bekerja. Sehingga waktu untuk berkesenian Topeng Ireng tak tersedia. Meski demikian, Teguh tetap berupaya meneruskan ‘warisan’ orangtua semampunya. Di usianya kini, ia tetap membu-at topeng-topeng hewan yang digunakan dalam pemen-tasan Topeng Ireng. Selain itu, topeng karyanya juga dijual sebagai souvenir.
Pimpinan Komunitas Manusia Rimba, Dusun Ge-dongan, Wanurejo, Borobudur, Jumadi (39) mengatakan, mata pencaharian sebagian besar para pegiat Topeng Ireng dan kesenian tradisional lainnya adalah bertani, sebagian lagi sebagai pengrajin. Jika mereka beraktivitas dalam kesenian pun, imbalan materi bukan yang utama, tapi karena kecintaan pada kesenian itu sendiri.
‘’Setiap pentas, kami tak mematok bayarannya harus berapa. Si penanggap mampunya bayar berapa, kami tinggal menyesuaikan dengan jumlah penari yang harus dibawa. Kalau motivasinya uang, mungkin kesenian tradisional di sini sudah punah lama,’’ujarnya.
Semangat untuk tetap mempertahankan Topeng Ireng, menurutnya karena bagian dari dakwah Islamiyah. Selain itu, kesenian tradisional sebagai media pemersatu warga satu dusun.

Comments are closed.