Tari Jatilan dalam Dinamika Zaman

December 7th, 2015 | by Ida
Tari Jatilan dalam Dinamika Zaman
Art
0

Relief-07 jathilan
BERDASARKAN pertumbuhan dan perkembangannya, seni Jatilan termasuk jenis kesenian rakyat (folk arts) yang banyak dikaitkan dengan ritus-ritus sosial di kalangan masyarakat pedesaan/petani. Sedangkan sebutan “jatilan” berasal dari kata “jathil” (Jawa) yang artinya “njoget nunggang jaran kepang”. Jadi yang disebut “jatilan” adalah: “Arane tontonan jejogedan nganggo nunggang jaran kepang” (Mangunsuwito, 2002: 76).
Tari kerakyatan dengan ciri khas para penarinya menggunakan properti kuda kepang ini banyak tumbuh dan berkembang di desa-desa wilayah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Timur, dan Jawa Barat. Bahkan para transmigran dari Jawa di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi juga banyak yang mengembangkan kesenian jenis ini. Di Malaysia bagian Selatan pun juga terdapat kesenian kuda kepang yang dikembangkan oleh orang-orang Jawa yang menetap di sana.
Adapun kesenian kuda kepang ini di beberapa daerah memiliki sebutan yang berbeda-beda. Di DIY, kesenian ini populer disebut sebagai “Jatilan”. Namun di Kulon Progo ada yang menyebut “Oglek” dan “Incling”. Sedangkan di Jawa Tengah daerah Banyumas, kesenian ini dikenal sebagai kesenian “Ebek”, dan di daerah keresidenan Surakarta disebut “Jaranan Dor”. Sementara di daerah Tulungagung, Blitar dan sekitarnya lebih dikenal sebagai kesenian “Senthe Rewe”, dan ‘Kuda Lumping’ istilah populer di Jawa Barat.
Koreografi dan Kesurupan atau nDadi
Bentuk koreografi dan variasi-variasi garap penyajian pada kesenian Jatilan, setiap daerah juga berbeda-beda. Namun pada intinya kesenian Jatilan, terdiri atas para penari penunggang kuda yang berpasang-pasangan yang menggambarkan suatu peperangan dengan bersenjatakan pedang. Tari Jatilan di DIY, dalam tradisi lamanya selalu berkaitan dengan cerita Panji. Indikatornya pada bentuk tutup kepala yang disebut tekes, dan dua figur Pentul (topeng putih) dan Tembem (topeng hitam).
Dalam tradisi lamanya pula, salah satu atraksi yang menonjol pada kesenian Jatilan adalah ketika satu atau lebih penarinya kemasukan roh atau ndadi (trances). Bahkan adegan ndadi menjadi salah satu ciri khas kesenian Jatilan di mana unsur-unsur magis atau supranatural sangat ditonjolkan pada pertunjukan kesenian Jatilan. Oleh sebab itulah di dalam kesenian Jatilan selalu ada seorang tokoh pawang yang bertugas memasukkan dan mengeluarkan roh, mengatur dan mengendalikan pada adegan ndadi tersebut. Adegan ndadi inilah yang menjadi puncak atau klimaks pertunjukan kesenian Jatilan.
Selanjutnya, adanya adegan ndadi tersebut mengindikasikan bahwa kesenian Jatilan termasuk kesenian lama dan tua usianya. Bagaimanapun penggunaan unsur-unsur magis atau supranatural adalah sisa-sisa budaya animisme yang masih melekat pada kesenian Jatilan sebagaimana pula masih terdapat dalam kesenian Sintren di daerah pesisir utara Jawa. Demikian pula tari-tarian tradisional di daerah Kalimantan (seni Dayak), Bali, Lombok, dan daerah lain di Indonesia juga masih banyak yang menggunakan unsur-unsur magis dalam pertunjukannya.
Namun demikian, terutama di Jawa dan khususnya kesenian Jatilan, belakangan ini adegan ndadi banyak dihilangkan dalam pertunjukannya. Terutama pertunjukan-pertunjukan kesenian Jatilan pada forum-forum festival atau lomba yang biasanya dibatasi oleh durasi waktu penampilannya. Tetapi pertunjukan kesenian Jatilan di desa-desa, terutama untuk nadaran, bersih desa, sunatan, dan sejenisnya, adegan ndadi selalu ditampilkan.
Relief-07 jathilan 1
Tari Jatilan Sebagai Seni Rakyat
Tari Jatilan dalam perspektif sosio-budaya merupakan representasi dari seni-budaya kerakyatan yang berbasis pada kalangan masyarakat pedesaan atau masyarakat petani, yang oleh Geertz disebut sebagai ‘seni kasar’, dan ‘seni klasik’ yang dikategorikan sebagai ‘seni alus’ (Geertz, 1960). Sisa-sisa dari unsur-unsur ‘seni kasar’ dan ‘seni alus’ agaknya masih bisa dirasakan dalam kehidupan dan perkembangan seni-seni pertunjukan tradisional di DIY.
Namun demikian bagi kalangan seniman moderat, dikotomi antara ‘seni kasar’ dengan ‘seni alus’, ‘seni kerakyatan’ dengan ‘seni klasik’, atau ‘seni pedesaan’ dengan ‘seni keraton’ bukan menjadi sesuatu yang wigati untuk diperdebatkan, dan sesuatu yang tidak penting di dalam konteks berkreativitas seni.
Suatu ekspresi kesenian (seni pertunjukan), baik tradisional maupun non-tradisional ukuran kualitasnya bukanlah atas dasar ‘seni kasar’ atau ‘seni alus’, ‘seni kerakyatan’ atau ‘seni klasik’. Melainkan pada totalitas penghayatan dalam penyajiannya, serta ketulusan dan keikhlasan dalam melakukannya. Hanya dengan tindakan-tindakan seperti itulah suatu ekspresi pertunjukan tari Jatilan dapat diapresiasi dan menggetarkan emosi penontonnya.
Sebagai contoh, tari ‘Kuda Lumping’ ciptaan Kuswaji Kawindarsusanta dan Bagong Kussudiardja (tahun 1960-an), bagaimanapun merupakan kemasan kreasi baru. Tari Jatilan tradisional oleh karenanya tidak bisa dibenturkan atau dibandingkan dengan tari ‘Kuda Lumping’ tersebut di atas. Bagi para pelaku tari Jatilan tradisional dan masyarakat pedesaan, bila melihat tari ‘Kuda Lumping’ kreasi baru tentu tidak akan menemukan sesuatu yang esensial dari tari Jatilan yang tradisional. Sesuatu yang esensial tersebut adalah pada aspek spiritualitas dalam diri para pelakunya.
Hal tersebut menjadi berbeda ketika spiritualitas kreativitas tersebut muncul dari para pelaku tari Jatilan tradisional, sebagaimana tari Jatilan yang hidup dan berkembang di wilayah Kedu dan sekitarnya, atau di daerah Tulungagung, Blitar di Jawa Timur, dan sekitarnya.
Perkembangan seni-seni tradisional kerakyatan di luar wilayah DIY oleh karenanya cenderung lebih berkembang, lebih kreatif, lebih berani dibandingkan dengan yang ada di DIY dalam mengekspresikan dan menyajikannya. Mengapa?, oleh karena wilayah-wilayah di luar DIY tersebut cenderung tidak terikat secara emosional atas dikotomi-dikotomi dalam perspektif sosio-budaya sebagaimana diungkapkan oleh Geertz tersebut di atas.***
*] Penulis adalah pemerhati dan pelaku seni pertunjukan tradisional, serta staf pengajar Jurusan Tari FSP ISI Yogyakarta. Tulisan di atas pernah disampaikan pada acara sarasehan ‘Kesurupan Kuda Lumping’ di Oemah Petroek, Karang Klethak, Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta.

Comments are closed.