Sepeda Tua yang Tersingkir, Kini Jadi Magnet Wisata

December 7th, 2015 | by Ida
Sepeda Tua yang Tersingkir, Kini Jadi Magnet Wisata
Culture
0

Relief-06 GoBorobudur

DI INDONESIA, pada zaman penjajahan Belanda, ada sekitar
1.912 sepeda kayuh, sepeda genjot, atau familiar disebut sepeda
onthel, menjadi bagian barang mewah pada waktu itu. Mereka
yang memiliki sepeda dapat dipastikan juga mempunyai status
sosial yang tinggi. Misalnya pejabat pemerintahan, pejabat militer,
priyayi, bangsawan, atau keluarga kerajaan.
Pada masa itu, sepeda digunakan untuk menopang kinerja
pemerintahan dan militer. Kaum pribumi atau rakyat biasa saat itu
masih bermimpi untuk bisa menggenjot sepeda. Sedangkan bagi
para bangsawan dan penjajah, memiliki sepeda saat itu sudah
menjadi bagian dari gaya hidup.
Baru hampir seabad kemudian, kemajuan teknologi dan
kemakmuran ekonomi mengubah gaya hidup masyarakat di Tanah
Air. Jika dahulu hanya bisa bermimpi memiliki sepeda, kini lebih
dari itu. Hampir sebagian besar masyarakat kita telah memiliki
mobil dan sepeda motor, jauh melampaui impian pada zaman
penjajahan dulu. Status sosial masyarakat salah satunya dinilai dari
jumlah sepeda motor dan mobil yang dimiliki.
Lantas, bagaimana kini dengan keberadaan sepeda tua, kuno, jadul
(jaman dulu) yang biasa disebut onthel itu? Zaman boleh berubah
dengan gebyar gaya hidup sekarang, tapi ‘besi-besi tua’ itu kini
masih dirawat oleh orang-orang yang setia. Yakni dirawat dan
‘dijaga’ oleh para onthelis (sebutan bagi penggemar sepeda tua)
yang memiliki loyalitas tinggi pada sepeda kuno yang sempat
menjadi bagian dari kemewahan masyarakat Indonesia pada
zaman dahulu itu.
Sepeda-sepeda produk kuno buatan Belanda seperti Fongers,
Batavus, Sparta, dan Gazelle hingga kini masih dirawat oleh para
pemiliknya sebagai barang antik. Begitu juga dengan sepedasepeda
bikinan Inggris bermerek Humber, Phillips, dan Raleigh.
Sepeda hingga kini juga tak hanya menjadi koleksi barang antik,
tapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di pedesaan.
Bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah, sepeda justru
masih menjadi bagian dari kebutuhan hidup mereka. Tak terkecuali
di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Di daerah tujuan wisata (DTW) yang dikenal dunia karena ‘memiliki’
Candi Borobudur itu, sepeda digunakan oleh para petani,
pencari rumput, dan menjadi alat transportasi antardesa, meski
keberadaan sepeda motor saat ini jauh lebih banyak. Selain itu,
sepeda juga digunakan oleh para pedagang ke pasar.
Rukiyat (50) warga Desa Candirejo, mengaku sepeda telah menjadi
bagian dari kehidupannya. Mulai dari pergi ke sawah dan kebun,
hingga membawa hasil panen ke pasar. Ia dan ratusan masyarakat
di Kecamatan Borobudur dan sekitarnya, masih mengandalkan kaki
untuk mengayuh sepeda hingga belasan kilometer. Muatan yang
menggunung di bagian belakang sepeda yang diberi bronjong,
bukan menjadi hambatan untuk tetap bersemangat mengais
rezeki.

Relief-06 sepeda tua

Comments are closed.