Ragam Inovasi Produk-produk Kesenian Tradisional Borobudur

December 7th, 2015 | by Ida
Ragam Inovasi Produk-produk Kesenian Tradisional Borobudur
Art
0

topeng ireng 2
BARISAN Bukit Menoreh di sisi selatan Candi Boro-budur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, di kaki dan lerengnya tumbuh subur kesenian tradisional yang diyakini sudah ada lebih dari seabad silam. Sejumlah kesenian rakyat itu hingga kini tetap dilestarikan, meski harus bersaing dengan arus kesenian modern yang merangsek hingga ke pelosok-pelosok dusun.
Warna-warni produk kesenian tradisional seperti Rodat, Topeng Ireng, Kubro Siswo, Jatilan, sekarang ini telah mengalami proses revitalisasi. Baik pada tata rias, kostum, musik pengiring, hingga pada gerak dan formasinya, sehingga tampil lebih atraktif sebagai sarana hiburan masyarakat.
Relief-07 jathilan1
Kesenian tradisional bagian dari hiburan rakyat yang tumbuhnya di pedesaan. Konon ceritanya, dahulu ketika para petani menunggu ladang atau sawahnya panen, mereka melakukan proses penciptaan karya seni pertunjukan. Setelah panen, karya tersebut dipentaskan sebagai rasa syukur atas karunia Tuhan atas nikmat hasil panen yang melimpah.
Sedangkan sebagian masyarakat lainnya sebagai penonton. Mereka biasanya berbondong-bondong turut menyaksikan pementasan meski tak ada undangan. Dan, jika ada pementasan kesenian, tak hanya satu desa saja yang menyaksikan. Sejumlah desa di sekitar pun tumpah-ruah turut menyaksikan hiburan gratis tersebut.
Kini, di zaman yang kian modern, berbagai media hiburan pun hadir di tengah masyarakat. Mulai dari film layar lebar, televisi, radio, hingga internet. Keberadaan seni pertunjukan tradisional tampak mulai terancam ditinggalkan penontonnya. Setidaknya hal ini bisa dilihat dari fenomena semakin menurunnya jumlah penonton dalam setiap pergelaran.
Budayawan Ariswara Sutomo (68), mengatakan seni pertunjukan tradisional di kawasan Borobudur sudah ada sejak dulu, tapi keberadaanya kian menggeliat pada 1930-an. Semakin digemari oleh masyarakat, kesenian tradisional akan tumbuh subur. Namun jika ditinggalkan para penonton maka akan mati dengan sendirinya.
Sutomo menceritakan, sekitar tahun 1950-an Raden Cokrodisastro –ayah kandung H. Boediardjo (mantan direktur pertama PT Taman Wisata Candi Borobudur dan mantan Menteri Penerangan RI)– mempopulerkan kelompok kesenian tradisional kepada masyarakat. Kesenian-kesenian rakyat di kawasan Borobudur itu sering dipentaskan di area wisata Candi Borobudur.
Pada perkembangannya, seni pertunjukan tradi-sional juga mulai mendapatkan sentuhan koreografi dan inovasi. Salah satu yang melakukan revitalisasi itu adalah Ahmad Sujak dari Desa Tuksongo, Borobudur. Mbah Sujak –nama populernya– mentransformasikan kesenian tradisional Rodat menjadi tari Topeng Kawedar. Dalam tarian tersebut, ia juga memasukkan unsur baru, seperti topeng berwajah binatang harimau, kuda, gajah, dll.
jathilan 5
‘’Pak Ahmad Sejak itulah yang melakukan inovasi, dengan menambah pemain kesenian menggunakan topeng berwajah binatang, baik itu harimau, kuda, kambing, gajah, dan lainnya,’’ papar Sutomo.
Inovasi yang telah dilakukan Mbah Sujak pada 1960-an pun mengalami pembaharuan lagi pada era 1990-an. Yakni dengan munculnya sebuah tarian yang para pemainnya menggunakan beragam kostum terbuat dari rumbai-rumbai dedaunan, ilalang, pelepah pisang, serta memakai ‘mahkota’ menggunakan janur kuning. Kesenian rakyat tersebut hingga kini populer dengan nama Topeng Ireng.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, Topeng Ireng berkembang lebih fenomenal lagi yakni dengan mengenakan mahkota dari bulu-bulu layaknya suku Indian di Amerika. Make up yang menghiasi wajah dan tubuh para penarinya juga semakin bervariasi, menggunakan motif seperti gambar tato.
‘’Inovasi dan kreativitas para seniman Topeng Ireng sangat fenomenal. Mereka selalu menampilkan hal-hal yang baru dan unik. Tapi dasar gerakannya tak lepas dari akar kesenian tradisional Rodat dan gerakan dasar pencak silat,’’ imbuhya.
SENI CAMPUR
Selain Topeng Ireng, kesenian tradisional di Boro-budur yang melakukan revitalisasi adalah Seni Campur. Produk kesenian ini merupakan gabungan dari Topeng Ireng, Jatilan, Kubro Siswo, dan Tari Penthul Tembem. Pertunjukan yang ‘diramu’ dan digarap dalam sebuah alur pementasan ini menampilkan fragmen seorang raja bermahkota yang dikawal beberapa prajurit. Sebagai atraksinya didukung penari Barongan berkolaborasi dengan Penthul Tembem dan pasukan Buto (raksasa).
Menurut Handoko (29), pimpinan Sanggar Waran-gan, Pakis, Magelang –lereng barat Gunung Merbabu– berbagai seni pertunjukan tradisional memiliki sumber dasar gerakan yang hampir sama. Inovasi koreografi, kostum, dan musik pengiringnya mutlak harus dilakukan agar kesenian tradisional tak ditinggalkan penonton.
‘’Rodat dan Pencak Silat Jawa menjadi sumber utama kesenian tradisional seperti Topeng Ireng, Kubro Siswo, Truntung, Soreng, dan Warok. Masing-masing komunitas bersaing untuk membuat inovasi agar semakin atraktif di mata penonton,’’ ujar seniman yang aktif di Komunitas Lima Gunung ini.
Berdasarkan pengalaman saat melakukan pe-mentasan di berbagai kota besar seperti Semarang, Surabaya, Jakarta, dan Palangkaraya, menurut Handoko, masyarakat perkotaan lebih menyukai pementasan berdurasi pendek, atraktif, dan harus membuat kejutan di panggung.
Selama masa libur Lebaran 2013, beragam kesenian tradisional tersebut ditampilkan secara ber-gantian di Taman Wisata Candi Borobudur, Kabupaten Magelang. Salah satu tujuan pementasan ini yakni sebagai upaya melestarikan kesenian tradisional agar tak punah dan ditinggalkan masyarakat.
topeng ireng1 topeng ireng 3

 

Comments are closed.